Gunung Lokon Tetap Aktif, Kawah Tompaluan Jadi Pusat Perhatian di Tomohon

Ragam3 Views

Gunung Lokon merupakan salah satu gunung api aktif yang berdiri di wilayah Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Dengan ketinggian sekitar 1.579 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi salah satu bentang alam yang paling mudah dikenali ketika seseorang memasuki kawasan pegunungan Tomohon.

Keindahan lereng hijau Gunung Lokon berpadu dengan karakter vulkanik yang membuat kawasan tersebut terus mendapatkan perhatian. Aktivitas utamanya tidak berlangsung tepat di puncak Gunung Lokon, melainkan berada di Kawah Tompaluan yang terletak di antara Gunung Lokon dan Gunung Empung.

Hingga September 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon berada pada Level II atau Waspada. Pemantauan dilakukan secara visual dan menggunakan sejumlah instrumen untuk mengetahui perubahan kegempaan, asap kawah, serta tekanan di bagian tubuh gunung.

Aktivitas vulkanik Gunung Lokon memang memiliki pola yang dapat berubah. Pada periode tertentu asap kawah terlihat tipis, sementara pada waktu lain jumlah gempa vulkanik dapat meningkat sehingga petugas memperketat pengawasan.

Gunung Lokon Menjadi Salah Satu Ikon Alam Kota Tomohon

Keberadaan Gunung Lokon tidak dapat dipisahkan dari wajah Kota Tomohon. Gunung berbentuk kerucut tersebut terlihat dari berbagai titik kota dan menjadi latar alam bagi kawasan permukiman, perkebunan, serta daerah wisata.

Tomohon sendiri merupakan wilayah pegunungan di Sulawesi Utara yang berada sekitar 25 kilometer dari Manado. Udara yang relatif sejuk serta tanah vulkanik yang subur membuat daerah ini dikenal sebagai kawasan pertanian dan hortikultura.

Dari kejauhan, Gunung Lokon terlihat seperti gunung berbentuk kerucut yang cukup sederhana. Namun sistem vulkaniknya lebih kompleks karena berhubungan erat dengan Gunung Empung.

Keduanya sering disebut sebagai kompleks Gunung Lokon Empung.

Gunung Lokon dan Empung Berdiri Berdampingan

Gunung Empung berada sekitar dua kilometer dari Lokon.

Kedua gunung tersebut dipisahkan sebuah pelana tempat Kawah Tompaluan berada. Kawah inilah yang menjadi pusat aktivitas vulkanik pada periode modern.

Gunung Lokon sendiri memiliki bagian puncak yang relatif datar dan tidak mempunyai kawah aktif utama.

Sementara Gunung Empung mempunyai kawah di bagian puncaknya, tetapi pusat aktivitas yang paling sering menjadi perhatian berada di Tompaluan.

Susunan tersebut menjelaskan mengapa laporan mengenai aktivitas Gunung Lokon hampir selalu menyebut Kawah Tompaluan.

Kawah Tompaluan Menjadi Pusat Aktivitas Vulkanik

Kawah Tompaluan berada di antara dua tubuh gunung dan menjadi lokasi tempat asap serta gas vulkanik sering terlihat.

Bentuk kawahnya menyerupai cekungan besar dengan dinding batuan vulkanik berwarna gelap. Pada kondisi tertentu, asap putih terlihat keluar dari dasar kawah.

Dalam catatan vulkanologi, aktivitas erupsi sejak abad ke 19 umumnya berasal dari Kawah Tompaluan.

Karena itu, kawasan ini menjadi titik utama yang selalu diperhatikan petugas ketika terjadi perubahan kegempaan atau peningkatan aktivitas permukaan.

Wisatawan yang melihat gunung dari kejauhan mungkin mengira letusan akan keluar dari puncak Lokon. Pada kenyataannya, pusat erupsi justru berada di area pelana antara Lokon dan Empung.

Asap Kawah Menjadi Salah Satu Parameter Pengamatan

Petugas memantau warna, tekanan, ketebalan, dan tinggi asap yang keluar dari kawah.

Asap putih biasanya berkaitan dengan uap air dan gas vulkanik. Namun peningkatan tekanan atau perubahan karakter asap tetap perlu diperhatikan bersama data lainnya.

Pada pengamatan 8 September 2026, asap kawah Gunung Lokon teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang.

Tinggi asap tercatat berkisar sekitar 5 sampai 100 meter di atas kawah.

Data visual semacam ini kemudian dibandingkan dengan hasil pencatatan instrumen seismik.

Status Gunung Lokon Masih Berada pada Level II Waspada

Level II atau Waspada menunjukkan bahwa aktivitas gunung berada di atas kondisi dasar dan memerlukan peningkatan perhatian.

Status ini bukan berarti seluruh Kota Tomohon berada dalam keadaan berbahaya.

Pembatasan biasanya difokuskan pada kawasan tertentu di sekitar Kawah Tompaluan sesuai rekomendasi resmi.

Masyarakat juga diminta mengikuti informasi terbaru karena rekomendasi jarak dapat berubah sesuai hasil evaluasi petugas.

Menurut penulis, kedekatan Gunung Lokon dengan kawasan perkotaan membuat informasi resmi dari petugas menjadi jauh lebih penting dibandingkan kabar yang beredar tanpa verifikasi.

Aktivitas Pendakian Gunung Lokon Juga Dibatasi

Pada Agustus 2026, Pemerintah Kota Tomohon menutup aktivitas pendakian Gunung Lokon dan beberapa kawasan pegunungan lain.

Selain mempertimbangkan aktivitas vulkanik, kebijakan tersebut juga berkaitan dengan tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau.

Pembatasan dilakukan sebagai langkah menjaga keselamatan pengunjung sekaligus melindungi kawasan hutan.

Pendaki sebaiknya tidak mencoba memasuki jalur yang sudah dinyatakan tertutup meskipun kondisi gunung terlihat cerah dari kejauhan.

Ratusan Gempa Vulkanik Dangkal Terekam pada Agustus 2026

Pemantauan Gunung Lokon tidak hanya mengandalkan kondisi yang terlihat di permukaan.

Petugas menggunakan seismograf untuk merekam getaran yang muncul dari dalam tubuh gunung.

Pada periode 16 hingga 31 Agustus 2026, aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa vulkanik dangkal.

Jumlahnya mencapai 388 kejadian.

Selain itu tercatat pula gempa vulkanik dalam, gempa hembusan, tremor non harmonik, gempa tektonik lokal, serta gempa tektonik jauh.

Jumlah tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas di bagian dangkal sistem Gunung Lokon masih berlangsung.

Gempa Vulkanik Dangkal Menjadi Perhatian Utama

Gempa vulkanik dangkal dapat muncul ketika terjadi pergerakan fluida, gas, atau perubahan tekanan pada bagian atas sistem gunung api.

Petugas tidak menilai satu jenis gempa secara terpisah.

Jumlah kejadian, amplitudo, lokasi sumber, serta perkembangan dari hari ke hari perlu dilihat secara bersamaan.

Jika jumlah gempa meningkat secara cepat disertai perubahan lain seperti asap kawah yang semakin tebal atau tekanan gas yang bertambah, evaluasi biasanya dilakukan lebih intensif.

Sebaliknya, aktivitas yang berfluktuasi tetap harus diamati karena Gunung Lokon memiliki sejarah erupsi yang cukup panjang.

Gunung Lokon Memiliki Riwayat Erupsi yang Panjang

Gunung Lokon termasuk salah satu gunung api yang telah lama menunjukkan aktivitas.

Catatan erupsi dari Kawah Tompaluan telah berlangsung sejak setidaknya 1829.

Jenis letusannya umumnya bersifat eksplosif dengan menghasilkan abu vulkanik dan lontaran material.

Pada beberapa periode, material pijar pernah terlontar ke sekitar kawah.

Aktivitas semacam itu dapat terjadi secara singkat ataupun berlangsung dalam beberapa episode.

Gunung Lokon juga pernah mengalami peningkatan aktivitas cukup kuat pada beberapa periode sepanjang abad ke 20 dan awal abad ke 21.

Letusan Bisa Melontarkan Abu dan Material Pijar

Ketika tekanan di dalam sistem vulkanik meningkat, material dari kawah dapat terlontar keluar.

Material tersebut dapat terdiri dari abu halus, lapili, hingga batu berukuran lebih besar.

Jangkauan lontaran sangat bergantung pada energi letusan.

Karena alasan tersebut, memasuki kawasan dekat Kawah Tompaluan tidak diperbolehkan ketika status aktivitas mengharuskan adanya pembatasan.

Bahkan letusan singkat dapat berbahaya bagi orang yang berada terlalu dekat dengan kawah.

Erupsi Freatik Bisa Terjadi Secara Mendadak

Salah satu jenis letusan yang perlu diwaspadai di Gunung Lokon adalah erupsi freatik.

Erupsi ini dapat terjadi ketika air di bawah permukaan dipanaskan oleh sumber panas vulkanik hingga menghasilkan tekanan uap sangat besar.

Saat tekanan tidak lagi dapat tertahan, material di sekitar kawah dapat terlontar keluar.

Erupsi semacam ini menjadi perhatian karena tidak selalu diawali perubahan yang mudah terlihat dari permukaan.

Hujan yang masuk ke sistem hidrotermal juga dapat memengaruhi kondisi di sekitar kawah.

Erupsi Tidak Selalu Harus Didahului Magma Keluar

Sebagian masyarakat menganggap letusan hanya terjadi jika magma muncul ke permukaan.

Padahal gunung api juga dapat menghasilkan ledakan akibat tekanan uap.

Material yang dilontarkan dalam erupsi freatik dapat berupa batuan lama yang berada di sekitar saluran kawah.

Walaupun tidak selalu melibatkan magma baru, energinya tetap dapat berbahaya.

Karena itu, larangan mendekati kawah tetap perlu dipatuhi meskipun tidak terlihat lava.

Abu Vulkanik Menjadi Salah Satu Ancaman Ketika Terjadi Letusan

Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan yang sangat halus.

Ketika erupsi terjadi, material tersebut dapat terbawa angin ke berbagai arah.

Jarak penyebaran sangat dipengaruhi kecepatan angin, arah angin, serta tinggi kolom erupsi.

Wilayah yang terkena hujan abu dapat mengalami penurunan kualitas udara dan jarak pandang.

Partikel abu juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.

Masyarakat disarankan menggunakan masker serta pelindung mata jika abu mulai turun di kawasan permukiman.

Tanaman dan Atap Rumah Perlu Mendapat Perhatian

Abu dalam jumlah banyak dapat menempel pada tanaman pertanian.

Di kawasan Tomohon yang memiliki aktivitas pertanian cukup besar, kondisi semacam ini perlu diperhatikan oleh petani.

Abu yang menumpuk pada atap juga sebaiknya dibersihkan setelah kondisi dinyatakan aman.

Jika terkena air, abu dapat menjadi lebih berat.

Pembersihan sebaiknya dilakukan menggunakan perlindungan pernapasan agar partikel halus tidak mudah terhirup.

Lahar Menjadi Ancaman Ketika Hujan Turun Deras

Material vulkanik yang berada di lereng dapat terbawa air hujan menuju bagian yang lebih rendah.

Campuran air, pasir, batu, serta material vulkanik dapat membentuk aliran lahar.

Daerah yang berada dekat sungai berhulu di kawasan Gunung Lokon perlu memperhatikan kondisi tersebut terutama saat hujan deras.

Aliran dapat mengikuti lembah dan saluran sungai sehingga bergerak cukup jauh dari pusat aktivitas.

Masyarakat sebaiknya tidak beraktivitas di sungai ketika hujan deras terjadi di bagian atas gunung.

Cuaca di Puncak Tidak Selalu Sama dengan Permukiman

Hujan dapat terjadi di kawasan puncak meskipun permukiman pada bagian bawah terlihat relatif cerah.

Karena itu, kondisi sungai perlu tetap diperhatikan.

Peningkatan tinggi air secara mendadak, perubahan warna air menjadi lebih keruh, atau suara material batu dari arah hulu dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

Informasi dari BPBD dan pemerintah daerah menjadi acuan ketika kondisi cuaca memburuk.

Pos Pengamatan Gunung Api Lokon Berada di Kakaskasen

Aktivitas Gunung Lokon dipantau dari Pos Pengamatan Gunung Api di Kelurahan Kakaskasen, Tomohon Utara.

Petugas melakukan pengamatan selama 24 jam melalui berbagai metode.

Selain kondisi visual, mereka mencatat aktivitas kegempaan menggunakan seismograf.

Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui perubahan yang mungkin terjadi di dalam tubuh gunung.

Kamera pemantauan juga membantu ketika kondisi cuaca memungkinkan.

Kabut Sering Menjadi Kendala Pengamatan Visual

Tomohon berada di daerah pegunungan yang cukup sering mengalami kabut dan hujan.

Ketika gunung tertutup kabut, kondisi kawah tidak selalu dapat diamati dengan jelas.

Situasi tersebut menunjukkan pentingnya alat pemantauan instrumental.

Seismograf tetap dapat merekam getaran meskipun gunung sama sekali tidak terlihat dari pos.

Data lain juga digunakan untuk mengetahui apakah terjadi perubahan tekanan atau aktivitas di bawah permukaan.

Kesuburan Tanah Membuat Lereng Lokon Dekat dengan Aktivitas Pertanian

Gunung api tidak hanya menghadirkan risiko.

Material vulkanik yang mengalami pelapukan dapat menghasilkan tanah yang subur.

Kawasan Tomohon dikenal dengan pertanian sayuran, tanaman hias, serta berbagai komoditas dataran tinggi.

Lereng pegunungan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Aktivitas pertanian tersebut berlangsung berdampingan dengan keberadaan sistem vulkanik aktif.

Karena itu, pemahaman terhadap zona aman sangat penting bagi masyarakat yang bekerja dekat kawasan gunung.

Gunung Lokon Juga Dikenal sebagai Salah Satu Daya Tarik Tomohon

Pemandangan Gunung Lokon menjadi salah satu daya tarik alam Sulawesi Utara.

Dari berbagai titik di Tomohon, bentuk gunung dapat terlihat dengan jelas ketika cuaca cerah.

Wisatawan biasanya tertarik melihat bentang pegunungan, perkebunan, serta lanskap kota dari kawasan sekitarnya.

Namun wisata gunung api harus selalu mengikuti aturan keselamatan.

Status aktivitas dan kondisi jalur perlu diperiksa sebelum melakukan perjalanan.

Menurut penulis, keindahan Gunung Lokon akan tetap dapat dinikmati tanpa harus memasuki zona yang sudah dibatasi oleh petugas.

Gunung Lokon Berbeda dengan Gunung Mahawu

Tomohon memiliki beberapa gunung sehingga pengunjung terkadang menyamakan Lokon dengan Mahawu.

Keduanya merupakan gunung berbeda.

Gunung Mahawu berada di sisi lain Kota Tomohon dan mempunyai karakter kawah serta jalur wisata sendiri.

Sementara pusat aktivitas Gunung Lokon berada di Kawah Tompaluan antara Lokon dan Empung.

Perbedaan ini perlu dipahami ketika pemerintah mengeluarkan aturan mengenai pendakian atau kawasan terlarang.

Instruksi untuk satu gunung tidak selalu sama dengan gunung lainnya.

Informasi Status Gunung Perlu Diperiksa Sebelum Beraktivitas

Status gunung api dapat berubah mengikuti hasil pengamatan.

Level I menunjukkan kondisi dasar, Level II menunjukkan Waspada, Level III menunjukkan Siaga, sedangkan Level IV merupakan Awas.

Perubahan status didasarkan pada analisis berbagai parameter.

Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya menentukan kondisi gunung hanya berdasarkan apakah asap terlihat banyak atau sedikit.

Aktivitas di bawah permukaan dapat mengalami peningkatan meskipun secara visual gunung terlihat tenang.

Warga Tomohon Tetap Diminta Mengikuti Arahan Petugas

Pada status Level II, masyarakat masih dapat menjalankan aktivitas sehari hari di luar zona yang dibatasi.

Hal terpenting adalah mematuhi rekomendasi mengenai jarak dari Kawah Tompaluan.

Informasi dari PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah perlu menjadi acuan.

Jika hujan abu terjadi, masker dan pelindung mata sebaiknya digunakan.

Warga yang tinggal atau bekerja di sekitar aliran sungai juga perlu lebih waspada ketika hujan deras turun di kawasan gunung.

Aktivitas pendakian sebaiknya hanya dilakukan apabila jalur telah dinyatakan terbuka oleh otoritas terkait.

Pemantauan kegempaan, asap kawah, kondisi cuaca, serta perubahan aktivitas Gunung Lokon terus dilakukan agar setiap perubahan dapat diketahui secepat mungkin.