Ketika Bangku Kuliah Berubah Menjadi Kemewahan bagi Banyak Keluarga Pendidikan tinggi selama bertahun tahun dipandang sebagai jalan untuk memperbaiki taraf hidup. Anak yang berhasil masuk perguruan tinggi membawa harapan besar bagi keluarga. Gelar sarjana dianggap dapat membuka akses menuju pekerjaan yang lebih baik, pendapatan lebih tinggi, serta kehidupan yang lebih stabil.
Namun, jalan menuju kampus tidak selalu terbuka lebar bagi seluruh warga. Biaya kuliah, tempat tinggal, transportasi, buku, perangkat digital, dan kebutuhan harian membuat pendidikan tinggi terasa semakin jauh bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Masalah tersebut tidak hanya dialami calon mahasiswa yang gagal memperoleh kursi di perguruan tinggi negeri. Mereka yang sudah diterima pun masih harus menghitung apakah keluarga mampu membayar biaya selama delapan semester.
Sebagian akhirnya memilih bekerja terlebih dahulu. Sebagian mengambil kuliah sambil bekerja dengan risiko kelelahan. Ada pula yang mengurungkan niat karena tidak ingin menambah beban orang tua.
Ketika kemampuan membayar menjadi penentu utama, pendidikan tinggi perlahan berubah dari ruang peningkatan pengetahuan menjadi barang yang hanya mudah dijangkau kelompok tertentu.
Angka Partisipasi Masih Menunjukkan Kesenjangan
Angka Partisipasi Kasar perguruan tinggi Indonesia pada 2025 masih berada di sekitar 32,9 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa belum semua warga usia kuliah dapat mengakses pendidikan setelah sekolah menengah.
Artinya, dari setiap seratus penduduk dalam kelompok usia yang menjadi sasaran pendidikan tinggi, hanya sekitar sepertiga yang tercatat mengikuti perkuliahan.
Keadaan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya melalui minat belajar. Banyak lulusan sekolah menengah memiliki kemampuan akademik dan keinginan melanjutkan pendidikan, tetapi terbentur biaya.
Kesenjangan semakin terlihat ketika data dibagi berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga. Anak dari keluarga dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi mempunyai peluang jauh lebih besar untuk masuk kampus dibandingkan anak dari kelompok pengeluaran terbawah.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjadi ruang yang ditentukan oleh kemampuan belajar. Kondisi keuangan keluarga masih mempunyai pengaruh yang sangat kuat.
UKT Bukan Satu Satunya Beban
Pembicaraan mengenai biaya kuliah sering hanya berpusat pada Uang Kuliah Tunggal. Padahal, UKT hanyalah salah satu bagian dari pengeluaran mahasiswa.
Mahasiswa yang kuliah di luar daerah membutuhkan biaya sewa kamar, makan, transportasi, listrik, internet, dan kebutuhan pribadi. Pengeluaran bulanan itu dapat lebih besar daripada UKT jika dihitung selama satu semester.
Program studi tertentu juga memerlukan alat, bahan, kegiatan laboratorium, buku, perangkat lunak, atau pakaian khusus. Mahasiswa desain membutuhkan perlengkapan gambar. Mahasiswa teknik membutuhkan alat kerja. Mahasiswa kesehatan menghadapi kebutuhan kegiatan klinik.
Tugas kuliah juga semakin bergantung pada laptop dan koneksi internet. Perangkat yang rusak dapat menghambat perkuliahan, sedangkan membeli laptop baru bukan keputusan ringan bagi keluarga dengan penghasilan terbatas.
Biaya wisuda, penelitian, pengumpulan data, perjalanan lapangan, serta pencetakan laporan turut muncul menjelang akhir masa studi.
Karena itu, keluarga tidak cukup hanya menanyakan berapa UKT per semester. Mereka harus menghitung seluruh biaya hidup dan kebutuhan akademik selama beberapa tahun.
“Kuliah disebut terjangkau hanya ketika mahasiswa mampu belajar sampai lulus tanpa membuat keluarganya terus hidup dalam kecemasan keuangan.”
UKT Berjenjang Belum Selalu Terasa Adil
Sistem UKT dirancang agar biaya mahasiswa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi orang tua atau pihak yang membiayai. Kelompok berpenghasilan rendah seharusnya memperoleh tarif lebih kecil.
Dalam pelaksanaannya, penetapan kelompok UKT masih kerap menimbulkan keluhan. Ada keluarga yang merasa tarif yang diterima tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya.
Persoalan dapat muncul ketika penilaian hanya membaca dokumen kepemilikan tanpa melihat beban keluarga. Sebuah rumah sederhana yang telah dimiliki puluhan tahun dapat dianggap sebagai aset bernilai tinggi meskipun penghasilan bulanan sangat terbatas.
Jumlah tanggungan, biaya pengobatan, cicilan, kehilangan pekerjaan, serta keadaan keluarga juga belum tentu tergambarkan secara utuh melalui formulir.
Mahasiswa memang dapat mengajukan peninjauan ulang di banyak perguruan tinggi. Namun, prosesnya harus mudah, terbuka, dan tidak membuat mahasiswa merasa sedang meminta belas kasihan.
Kampus perlu menjelaskan dasar pengelompokan secara rinci. Mahasiswa juga harus mendapat ruang menyampaikan perubahan keadaan ekonomi yang terjadi setelah penetapan awal.
Perguruan Tinggi Menghadapi Biaya Operasional Besar
Kampus membutuhkan dana untuk membayar dosen dan tenaga kependidikan, merawat gedung, menyediakan laboratorium, memperbarui perpustakaan, menjaga jaringan internet, serta menjalankan penelitian.
Program studi dengan laboratorium dan peralatan khusus mempunyai kebutuhan lebih besar dibandingkan program yang terutama menggunakan ruang kelas.
Pemerintah menetapkan standar biaya operasional sebagai dasar perhitungan Biaya Kuliah Tunggal dan UKT. Perguruan tinggi negeri diminta mempertimbangkan kemampuan mahasiswa dalam menentukan tarif.
Persoalan muncul ketika dukungan anggaran negara tidak tumbuh sejalan dengan kebutuhan kampus. Perguruan tinggi kemudian mencari penerimaan dari mahasiswa, kerja sama usaha, pemanfaatan aset, dan sumber lain.
Ketergantungan berlebihan pada pembayaran mahasiswa dapat menggeser beban pendidikan kepada keluarga. Kampus mungkin mampu memperbaiki fasilitas, tetapi calon mahasiswa miskin semakin sulit masuk.
Negara perlu memastikan kebutuhan operasional tidak dibayar dengan mengorbankan akses. Mutu pendidikan dan keterjangkauan seharusnya berjalan bersama.
Keluarga Menjual Aset demi Biaya Kuliah
Di banyak daerah, keputusan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi melibatkan pengorbanan besar. Orang tua menjual tanah, ternak, kendaraan, perhiasan, atau barang berharga lain.
Sebagian mengambil pinjaman dari bank, koperasi, kerabat, hingga layanan pinjaman digital. Utang tersebut harus dibayar ketika mahasiswa belum mempunyai pendapatan tetap.
Keluarga petani menghadapi pendapatan yang berubah mengikuti musim dan harga hasil panen. Pedagang kecil juga tidak selalu memperoleh keuntungan yang sama setiap bulan.
Ketika pembayaran UKT tiba pada waktu usaha sedang lesu, keluarga terpaksa mencari dana dalam waktu singkat. Keterlambatan dapat membuat mahasiswa tidak bisa mengisi rencana studi.
Situasi ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan bukan sekadar angka pada lembar tagihan. Di belakangnya terdapat keputusan keluarga mengenai kebutuhan makan, kesehatan, rumah, dan pekerjaan.
Kuliah dapat menjadi sumber harapan, tetapi juga berubah menjadi tekanan keuangan yang berlangsung bertahun tahun.
Mahasiswa Bekerja sambil Menjaga Nilai
Banyak mahasiswa memilih bekerja untuk menutupi biaya hidup. Mereka menjadi penjaga toko, pengemudi, pelayan, penulis, pekerja administrasi, tutor, serta tenaga lepas.
Pilihan tersebut menunjukkan kemandirian, tetapi tidak selalu mudah dijalankan. Jam kerja dapat berbenturan dengan jadwal kuliah, kegiatan kelompok, dan tugas laboratorium.
Mahasiswa yang bekerja malam hari berisiko datang ke kelas dalam keadaan lelah. Waktu membaca dan mengerjakan tugas semakin sedikit.
Prestasi akademik kemudian dapat menurun bukan karena kemampuan rendah, tetapi karena energi terbagi antara bekerja dan belajar.
Kampus sebaiknya memahami keadaan tersebut melalui jadwal yang lebih tertata, layanan konseling, serta dukungan akademik. Dosen tetap dapat menjaga standar tanpa mengabaikan realitas mahasiswa.
Pekerjaan paruh waktu di lingkungan kampus juga dapat diperluas. Perpustakaan, laboratorium, pusat data, dan unit administrasi dapat membuka kesempatan kerja yang sesuai dengan jadwal kuliah.
KIP Kuliah Membuka Pintu bagi Keluarga Miskin
Kartu Indonesia Pintar Kuliah menjadi salah satu program penting untuk memperluas akses. Penerima memperoleh pembebasan biaya pendidikan yang dibayarkan kepada perguruan tinggi.
Mahasiswa juga menerima bantuan biaya hidup antara Rp800.000 sampai Rp1.400.000 per bulan sesuai wilayah.
Bantuan tersebut memberi kesempatan kepada siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu untuk belajar tanpa menanggung UKT.
Namun, kuota tetap terbatas dibandingkan jumlah calon mahasiswa yang membutuhkan. Seleksi dan verifikasi harus dilakukan secara tepat agar bantuan benar benar diterima kelompok sasaran.
Masalah lain muncul ketika biaya hidup di kota pendidikan jauh lebih tinggi daripada bantuan yang diterima. Mahasiswa masih harus mencari tambahan untuk sewa tempat tinggal dan kebutuhan harian.
Pencairan dana yang terlambat juga dapat mengganggu kehidupan mahasiswa. Mereka tetap harus membayar makan dan tempat tinggal meskipun bantuan belum masuk.
KIP Kuliah perlu dipandang sebagai dasar perlindungan, bukan satu satunya jawaban terhadap mahalnya pendidikan tinggi.
Mahasiswa Kelas Menengah Ikut Terjepit
Perhatian sering terpusat pada keluarga termiskin, sementara kelompok menengah menghadapi tekanan yang berbeda. Mereka dianggap cukup mampu sehingga tidak memenuhi syarat bantuan penuh, tetapi pendapatannya belum tentu cukup untuk membayar seluruh biaya.
Keluarga dengan dua atau tiga anak usia sekolah dapat menghadapi pengeluaran besar dalam waktu bersamaan.
Pegawai dengan penghasilan tetap terlihat aman di atas dokumen, tetapi harus membayar cicilan rumah, biaya kesehatan orang tua, transportasi, dan kebutuhan keluarga lain.
Kelompok ini sering tidak memperoleh subsidi terbesar, namun juga tidak memiliki tabungan yang cukup. Mereka akhirnya memakai utang atau mengurangi kebutuhan pokok.
Sistem bantuan perlu menghindari pembagian terlalu kaku antara miskin dan mampu. Kemampuan membayar berada dalam rentang yang luas serta dapat berubah karena kehilangan pekerjaan, sakit, atau musibah.
Skema cicilan tanpa bunga, penyesuaian sementara, dan bantuan darurat dapat membantu mahasiswa bertahan ketika kondisi keluarga berubah.
Kampus Favorit Terkonsentrasi di Kota Besar
Biaya menjadi semakin tinggi karena perguruan tinggi berkualitas banyak terkonsentrasi di kota besar. Siswa dari kabupaten harus pindah jika ingin masuk program tertentu.
Perpindahan tersebut menambah biaya sewa kamar dan perjalanan pulang. Keluarga juga perlu menyiapkan kebutuhan awal seperti kasur, meja, alat masak, dan transportasi lokal.
Mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga kehilangan dukungan harian. Ketika sakit atau mengalami kesulitan keuangan, mereka harus mengurus semuanya sendiri.
Penguatan kampus di daerah dapat mengurangi beban tersebut. Mutu dosen, laboratorium, jaringan internet, serta program studi perlu diperluas di luar pusat kota.
Pendidikan jarak jauh juga dapat membantu, tetapi tidak semua bidang dapat diselesaikan melalui layar. Program yang membutuhkan praktik tetap memerlukan fasilitas fisik.
Pemerataan perguruan tinggi berkualitas akan memberi kesempatan kepada anak daerah untuk belajar tanpa harus menanggung biaya hidup kota besar.
Biaya Masuk Jalur Mandiri Menjadi Sorotan
Jalur mandiri memberi perguruan tinggi ruang menyeleksi mahasiswa melalui mekanisme yang ditentukan kampus. Di sejumlah tempat, jalur ini disertai uang pangkal atau sumbangan pengembangan.
Biayanya dapat mencapai jumlah yang sulit dijangkau keluarga biasa, terutama pada program studi yang sangat diminati.
Keberadaan tarif tinggi menimbulkan kekhawatiran bahwa kursi pendidikan dapat lebih mudah diperoleh mereka yang mempunyai kemampuan membayar.
Seleksi tetap harus mempertahankan standar akademik. Informasi biaya juga wajib diumumkan sejak awal agar calon mahasiswa tidak terkejut setelah dinyatakan diterima.
Perguruan tinggi perlu menyediakan pengecualian atau keringanan bagi peserta berprestasi dari keluarga tidak mampu.
Jalur penerimaan tidak seharusnya menjadi pintu yang memisahkan calon mahasiswa berdasarkan kekuatan keuangan.
Tabel Beban yang Dihadapi Mahasiswa
| Komponen | Bentuk Pengeluaran |
|---|---|
| Biaya pendidikan | UKT dan biaya program tertentu |
| Tempat tinggal | Sewa kamar, listrik, air, dan perlengkapan |
| Kebutuhan harian | Makan, transportasi, dan komunikasi |
| Perangkat belajar | Laptop, ponsel, internet, dan perangkat lunak |
| Kegiatan akademik | Buku, laboratorium, bahan, dan perjalanan lapangan |
| Tugas akhir | Penelitian, pengumpulan data, pencetakan, dan perjalanan |
| Kebutuhan kesehatan | Obat, pemeriksaan, dan perlindungan kesehatan |
| Kegiatan kampus | Organisasi, pelatihan, dan kebutuhan administrasi |
| Kelulusan | Pendaftaran, pakaian, dokumentasi, dan perjalanan keluarga |
Perguruan Tinggi Swasta Menanggung Tantangan Berbeda
Perguruan tinggi swasta menerima sebagian besar mahasiswa Indonesia. Banyak kampus swasta juga menjadi pilihan utama di daerah yang tidak memiliki perguruan tinggi negeri.
Pendapatan mereka sangat bergantung pada pembayaran mahasiswa. Ketika jumlah pendaftar turun, kemampuan membayar dosen dan merawat fasilitas ikut terganggu.
Tidak semua kampus swasta mengenakan biaya tinggi. Banyak perguruan tinggi kecil justru berusaha mempertahankan tarif rendah agar tetap dapat dijangkau masyarakat.
Namun, tarif murah dapat berhubungan dengan keterbatasan laboratorium, koleksi perpustakaan, layanan karier, dan jumlah dosen.
Pemerintah perlu memperluas bantuan kepada mahasiswa di kampus swasta sekaligus membantu penguatan mutu lembaganya.
Mahasiswa seharusnya tidak kehilangan kesempatan memperoleh bantuan hanya karena program studi yang dibutuhkan tersedia di perguruan tinggi swasta.
Rasio Mahasiswa dan Dosen Menjadi Persoalan Mutu
Akses pendidikan bukan hanya soal masuk kampus. Mahasiswa juga berhak memperoleh pembelajaran yang layak.
Data OECD mencatat rasio mahasiswa terhadap tenaga pengajar di pendidikan tinggi Indonesia masih tinggi. Pada institusi publik, jumlah mahasiswa per tenaga akademik jauh melampaui rata rata negara OECD.
Kelas yang terlalu besar dapat mengurangi interaksi antara mahasiswa dan dosen. Bimbingan tugas akhir menjadi lebih lambat, sedangkan umpan balik terhadap tugas tidak selalu mendalam.
Ketika kampus mengejar penerimaan mahasiswa tanpa menambah dosen dan fasilitas, kualitas belajar dapat menurun.
Mahasiswa telah membayar biaya yang tidak sedikit. Mereka berhak memperoleh pengajaran, layanan akademik, dan lingkungan belajar yang sepadan.
Perluasan akses harus diikuti investasi pada dosen, laboratorium, perpustakaan, serta dukungan bagi mahasiswa.
Gelar Sarjana Tidak Selalu Menjamin Pekerjaan
Keluarga bersedia berkorban karena berharap pendidikan tinggi meningkatkan peluang kerja anak. Namun, hubungan antara gelar dan pekerjaan tidak selalu berjalan lurus.
Sebagian lulusan menghadapi pekerjaan yang tidak sesuai bidang studi. Ada pula yang menerima upah rendah meskipun telah menghabiskan biaya besar selama kuliah.
Keadaan ini membuat keluarga mulai mempertanyakan nilai pendidikan tinggi. Mereka menghitung pengeluaran bertahun tahun dengan pendapatan yang belum tentu segera diperoleh.
Kampus perlu memperkuat hubungan dengan dunia kerja tanpa mengubah pendidikan hanya menjadi pelatihan tenaga kerja.
Mahasiswa tetap membutuhkan kemampuan berpikir, menulis, meneliti, berkomunikasi, dan memecahkan persoalan. Namun, keterampilan tersebut harus diterjemahkan dengan jelas agar dapat digunakan setelah lulus.
Informasi mengenai peluang kerja setiap program studi perlu disampaikan secara jujur kepada calon mahasiswa.
Pinjaman Pendidikan Memerlukan Kehati Hatian
Pinjaman pendidikan sering diajukan sebagai solusi bagi mahasiswa yang tidak mampu membayar biaya di muka. Pembayaran dilakukan setelah lulus dan memperoleh pekerjaan.
Skema tersebut dapat membantu akses apabila bunga rendah, pembayaran menyesuaikan pendapatan, dan perlindungan bagi penganggur tersedia.
Namun, pinjaman juga dapat memindahkan beban dari orang tua kepada lulusan muda. Mereka memulai kehidupan kerja dengan utang sebelum mampu membangun tabungan.
Apabila lapangan kerja terbatas dan upah rendah, cicilan dapat menjadi tekanan panjang.
Indonesia perlu belajar dari negara yang menghadapi persoalan utang mahasiswa dalam jumlah besar. Pendidikan tidak boleh berubah menjadi jalan menuju beban keuangan puluhan tahun.
Pinjaman seharusnya menjadi pilihan tambahan setelah beasiswa, subsidi, dan bantuan langsung diperkuat.
Transparansi Penggunaan UKT Perlu Diperluas
Mahasiswa sering menerima tagihan tanpa mengetahui secara rinci bagaimana dana tersebut digunakan.
Perguruan tinggi dapat meningkatkan kepercayaan dengan menerbitkan laporan mengenai penerimaan UKT, bantuan pemerintah, belanja fasilitas, serta dukungan bagi mahasiswa.
Transparansi membantu masyarakat memahami kebutuhan biaya pendidikan. Kampus juga dapat menunjukkan bahwa kenaikan tarif memang berkaitan dengan peningkatan layanan.
Jika fasilitas tidak berubah sementara biaya terus meningkat, mahasiswa wajar mengajukan pertanyaan.
Keterbukaan juga memperkuat pengawasan terhadap pemborosan dan penggunaan dana yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan.
Mahasiswa bukan sekadar pembayar. Mereka merupakan bagian dari komunitas akademik yang berhak mengetahui arah pengelolaan kampus.
“Kampus tidak boleh meminta keluarga berkorban tanpa memberikan penjelasan yang terbuka mengenai ke mana biaya pendidikan digunakan.”
Negara Perlu Memperbesar Tanggung Jawab
Pendidikan tinggi menghasilkan manfaat yang tidak hanya dinikmati lulusan. Negara memperoleh tenaga kesehatan, guru, insinyur, peneliti, pengusaha, dan aparatur yang dibutuhkan masyarakat.
Karena manfaatnya luas, pembiayaan tidak layak diserahkan terutama kepada keluarga.
Anggaran negara perlu memberi ruang lebih besar bagi perguruan tinggi agar tarif mahasiswa dapat ditekan tanpa menurunkan mutu.
Subsidi harus diarahkan dengan tepat. Kelompok mampu dapat membayar lebih besar, sedangkan keluarga rentan memperoleh perlindungan yang kuat.
Pemerintah juga perlu menjaga agar kampus tidak berlomba mencari pendapatan melalui penerimaan mahasiswa tanpa mempertimbangkan daya bayar masyarakat.
Pendidikan tinggi harus diperlakukan sebagai investasi sosial, bukan sekadar layanan yang dibeli sesuai kemampuan keuangan.
Kesempatan Kuliah Tidak Boleh Ditentukan Kode Pos
Anak yang lahir di desa terpencil menghadapi tantangan lebih besar daripada siswa di kota. Sekolah mungkin kekurangan guru, akses bimbingan terbatas, dan informasi mengenai seleksi kampus tidak selalu tersedia.
Ketika diterima, biaya perjalanan dan tempat tinggal menjadi penghalang baru.
Kebijakan pendidikan tinggi harus melihat seluruh perjalanan siswa, bukan hanya tahap pembayaran UKT.
Bimbingan pendaftaran, bantuan perjalanan, asrama terjangkau, serta dukungan tahun pertama dapat membantu mahasiswa dari daerah.
Perguruan tinggi juga perlu menciptakan lingkungan yang tidak merendahkan mahasiswa karena pakaian, logat, perangkat, atau kemampuan ekonomi.
Kesempatan belajar seharusnya ditentukan oleh kemampuan dan kemauan, bukan tempat lahir atau besarnya penghasilan keluarga.
Kampus Harus Kembali Menjadi Ruang Mobilitas Sosial
Perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam mempertemukan orang dari berbagai latar belakang. Di ruang kelas, anak petani seharusnya dapat belajar bersama anak pejabat dengan hak akademik yang sama.
Ketika kampus hanya mudah dijangkau kelompok kaya, fungsi tersebut melemah. Pendidikan justru memperkuat jarak yang sudah ada sejak lahir.
Anak dari keluarga mampu memperoleh sekolah lebih baik, bimbingan tambahan, perangkat lengkap, dan kesempatan masuk kampus unggulan. Setelah lulus, jaringan keluarga membantu mereka memasuki pekerjaan terbaik.
Sementara anak miskin harus melewati lebih banyak hambatan bahkan sebelum perkuliahan dimulai.
Pendidikan tinggi harus memutus rantai ketimpangan tersebut, bukan mengulanginya.
Beasiswa, subsidi, penerimaan yang adil, fasilitas asrama, serta dukungan akademik perlu dirancang sebagai satu kesatuan.
Kemewahan Itu Muncul ketika Pilihan Menghilang
Kuliah berubah menjadi kemewahan bukan semata karena gedung megah atau biaya program tertentu. Kemewahan muncul ketika hanya keluarga tertentu yang bebas memilih jurusan, kota, dan kampus tanpa takut pada tagihan.
Bagi keluarga lain, keputusan kuliah berarti memilih antara pendidikan dan kebutuhan rumah tangga.
Ada anak yang menghapus kampus impiannya dari daftar karena biaya tempat tinggal. Ada yang memilih jurusan bukan berdasarkan minat, tetapi karena paling murah. Ada pula yang berhenti pada semester akhir karena penghasilan keluarga menurun.
Cerita semacam itu menunjukkan akses belum benar benar setara.
Pendidikan tinggi perlu dikembalikan sebagai hak yang dapat diperjuangkan melalui kemampuan akademik, bukan barang langka yang mengikuti isi rekening.
Negara, kampus, dunia usaha, dan masyarakat memiliki bagian masing masing. Pemerintah menyediakan pembiayaan, kampus menjaga biaya serta mutu, perusahaan membuka dukungan, sedangkan masyarakat mengawasi agar kesempatan tidak dibatasi kekayaan.
Bangku kuliah akan berhenti menjadi kemewahan ketika seorang anak dapat menerima surat kelulusan dengan kegembiraan, bukan langsung disusul ketakutan mengenai cara keluarganya membayar semester pertama.






