Makassar tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, pendidikan tinggi, dan layanan kesehatan di kawasan timur Indonesia. Pesantren di Makassar ini yang melayani keluarga dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan, bahkan dari provinsi lain. Lembaga tersebut hadir dalam bentuk pesantren modern, pesantren tahfiz, pesantren putri, serta pondok yang mempertahankan pengajian kitab dan pembinaan keulamaan.
Keberadaan pesantren di tengah kota besar memberi pilihan berbeda bagi orang tua. Anak tidak hanya mengikuti pelajaran umum di ruang kelas, tetapi juga tinggal dalam lingkungan yang mengatur ibadah, belajar malam, penggunaan gawai, kebersihan, bahasa, dan pergaulan. Pendidikan berlangsung sepanjang hari melalui kegiatan sekolah, asrama, masjid, organisasi, serta hubungan dengan para pengasuh.
Makassar juga mempunyai posisi penting sebagai pintu masuk transportasi menuju banyak daerah di Indonesia timur. Akses melalui bandar udara, pelabuhan, dan jalur darat membuat pesantren di kota ini relatif mudah dijangkau keluarga dari luar daerah. Meski demikian, setiap pondok memiliki sistem penerimaan, jenjang pendidikan, biaya, kurikulum, dan aturan asrama yang berbeda.
Makassar Memiliki 23 Pesantren dan Ribuan Santri
Dokumen akademik Pemerintah Kota Makassar yang disusun untuk rancangan aturan fasilitasi penyelenggaraan pesantren mencatat 23 pondok pesantren di kota tersebut. Jumlah santrinya mencapai sekitar 7.600 orang, terdiri atas 4.006 santri putri dan 3.594 santri putra. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren telah menjadi bagian penting dari layanan pendidikan di Makassar.
Dokumen tersebut dibuat sebagai landasan penyusunan kebijakan daerah mengenai pembinaan dan dukungan terhadap pesantren. Pada 2025, pembahasan rancangan peraturan daerah mengenai fasilitasi penyelenggaraan pesantren juga tercatat dalam sistem dokumentasi hukum Pemerintah Kota Makassar. Aturan itu diarahkan untuk memperjelas peran pemerintah daerah dalam mendukung lembaga, santri, pendidik, sarana, serta kegiatan kepesantrenan.
Jumlah lembaga dapat berubah mengikuti pendaftaran pesantren baru, pembaruan izin, penggabungan pengelolaan, atau perubahan status satuan pendidikan. Orang tua sebaiknya tidak hanya bergantung pada daftar yang beredar di media sosial. Pemeriksaan melalui layanan Kementerian Agama serta konfirmasi langsung kepada pengelola diperlukan untuk mengetahui status lembaga yang akan dipilih.
“Pesantren di Makassar tumbuh sebagai bagian dari kehidupan kota. Kekuatan utamanya terlihat pada kemampuan menggabungkan pembinaan agama, kedisiplinan asrama, dan pendidikan sekolah dalam satu lingkungan.”
Corak Pendidikan yang Ditawarkan Pesantren Makassar
Pesantren di Makassar tidak bergerak dengan pola yang seragam. Sebagian mengelola sekolah formal tingkat menengah pertama dan menengah atas, sedangkan yang lain berfokus pada tahfiz Al Quran, bahasa Arab, pengajian kitab, atau pendidikan kader ulama. Ada pula lembaga yang memadukan beberapa program dalam satu kompleks.
Model pesantren modern biasanya memberikan porsi besar kepada pelajaran nasional, bahasa, teknologi, kegiatan organisasi, dan pembinaan asrama. Santri mengikuti kegiatan sekolah seperti siswa pada umumnya, kemudian melanjutkan pendidikan agama setelah jam kelas. Jadwal mereka dapat berlangsung sejak sebelum Subuh hingga waktu istirahat malam.
Pesantren tahfiz mempunyai sasaran lebih khusus. Waktu belajar banyak digunakan untuk memperbaiki bacaan, menambah hafalan, melakukan pengulangan, dan menyetorkan hafalan kepada pembimbing. Pelajaran umum tetap dapat tersedia, tetapi pembagian waktunya harus diperiksa karena setiap pondok menetapkan target hafalan yang berbeda.
Pesantren dengan tradisi kitab menempatkan penguasaan bahasa Arab, fikih, tafsir, hadis, akidah, dan ilmu alat sebagai bagian utama. Pembelajaran dapat berlangsung melalui kelas berjenjang, pengajian bersama kiai, diskusi, serta latihan membaca teks Arab. Perbedaan tersebut membuat pemilihan pesantren perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
Pesantren Modern IMMIM Putra Memiliki Riwayat Panjang
Pesantren Modern Pendidikan Al Quran IMMIM Putra menjadi salah satu nama yang lama dikenal di Makassar dan Sulawesi Selatan. Profil resmi lembaga menyebut pesantren tersebut berdiri sejak 1975. Kehadirannya berkaitan dengan Ikatan Masjid Mushalla Indonesia Muttahidah yang mengembangkan pendidikan santri dengan semangat persatuan dalam akidah dan toleransi terhadap perbedaan cabang keagamaan.
Pola pendidikan IMMIM mempertemukan kegiatan sekolah, kepesantrenan, pembinaan bahasa, Al Quran, serta aktivitas organisasi santri. Situs resminya membawa semangat pendidikan generasi Islami yang unggul dan berwawasan global. Rekam kegiatan lembaga juga memperlihatkan penggunaan rapor elektronik, program hafalan Al Quran, serta pengenalan digitalisasi dalam kehidupan pesantren.
Nama IMMIM sering dicari keluarga yang menginginkan pesantren putra dengan sistem asrama dan pendidikan formal. Namun, calon wali santri tetap perlu memeriksa lokasi kampus, jenjang yang sedang menerima siswa, susunan program, fasilitas kesehatan, jadwal kunjungan, serta ketentuan kepulangan.
Lingkungan pesantren modern biasanya menuntut santri mengikuti kegiatan yang padat. Kemampuan mengatur waktu, menjaga barang pribadi, merapikan kebutuhan sendiri, dan mengikuti arahan pembina menjadi bagian dari proses pendidikan. Orang tua perlu menjelaskan pola hidup tersebut sebelum anak mengikuti seleksi.
Ummul Mukminin Menjadi Pilihan Pesantren Putri
Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan secara khusus melayani santriwati. Situs resminya menjelaskan bahwa lembaga tersebut mengembangkan pendidikan terpadu antara kurikulum nasional dan kepesantrenan. Visi pendidikannya diarahkan pada pembentukan alumni putri yang unggul, kader ulama, serta kader pemimpin dengan landasan Al Quran dan Sunnah.
Riwayat resmi lembaga menyebut pembangunan fisik dimulai pada 1984. Penerimaan santri baru berlangsung pada 1987 dengan jumlah awal 17 orang. Perjalanan dari kelompok kecil menuju lembaga putri berskala besar memperlihatkan tingginya kebutuhan keluarga terhadap pendidikan berasrama bagi anak perempuan di Sulawesi Selatan.
Program di Ummul Mukminin mencakup pendidikan sekolah, pelajaran kepesantrenan, tahfiz, pembinaan ibadah, dan pengembangan organisasi. Situs lembaga juga menyebut fasilitas pembelajaran elektronik serta laboratorium. Pada 2024, pondok tersebut menamatkan 219 santriwati angkatan ke 32, sementara kegiatan tahfiz terus dijalankan sebagai salah satu program utama.
Pesantren putri membutuhkan perhatian khusus pada keamanan asrama, kesehatan santriwati, kecukupan air bersih, pendampingan ketika sakit, serta komunikasi dengan keluarga. Orang tua perlu menanyakan keberadaan pengasuh perempuan, prosedur izin keluar, layanan konseling, penyimpanan obat, dan penanganan keadaan darurat.
An Nahdlah Menjaga Keilmuan dan Budaya Sulawesi
Pondok Pesantren An Nahdlah merupakan salah satu lembaga yang dikenal dalam lingkungan Nahdlatul Ulama di Makassar. Perpustakaan NU mencatat buku mengenai sejarah perkembangan Pondok Pesantren An Nahdlah Ujung Pandang Makassar yang diterbitkan pada 2009. Pencatatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan lembaga telah didokumentasikan sebagai bagian dari sejarah pendidikan Islam setempat.
An Nahdlah tidak hanya menjalankan pendidikan agama dan pembinaan santri. Lembaga tersebut pernah menjadi tempat pembicaraan mengenai hubungan tradisi lontarak dengan pendidikan pesantren. Tokoh kebudayaan Sulawesi Selatan mendorong pondok itu merawat buku adat dan warisan tertulis lokal karena keduanya berhubungan dengan perkembangan Islam di daerah.
Pembinaan kepemimpinan juga menjadi bagian dari kegiatan santri. Pada salah satu latihan dasar kepemimpinan dan kepesantrenan, ratusan santri mengikuti pembelajaran mengenai organisasi serta tanggung jawab. Pertemuan alumni pada 2025 turut memperlihatkan hubungan yang terjaga antara pengasuh, lulusan, dan masyarakat.
Bagi keluarga yang mencari pondok dengan perhatian pada kitab, organisasi keagamaan, dan budaya setempat, An Nahdlah dapat masuk dalam daftar kunjungan. Penilaian sebaiknya dilakukan melalui percakapan dengan pengasuh, guru, santri, serta wali santri yang telah lebih dahulu bergabung.
Al Imam Ashim Menguatkan Jalur Tahfiz Al Quran
Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Al Imam Ashim dikenal sebagai salah satu lembaga tahfiz di kawasan Makassar. Kegiatan lembaga keagamaan pada 2025 mencatat kunjungan ke pondok tersebut yang diterima oleh pengasuh, KH Syam Amir Yunus. Pertemuan itu membicarakan penguatan hubungan serta kerja sama dalam dakwah Al Quran.
Pesantren tahfiz mempunyai pola pembinaan yang berbeda dari sekolah berasrama biasa. Kualitas program tidak cukup dinilai dari banyaknya target juz. Metode tahsin, jumlah pembimbing, perbandingan guru dengan santri, jadwal pengulangan hafalan, standar kelulusan, serta kemampuan menjaga hafalan perlu diperiksa.
Calon santri juga harus mengetahui apakah program tahfiz berjalan bersama pendidikan formal atau diselenggarakan sebagai jalur khusus. Hal tersebut akan menentukan jadwal harian, beban belajar, waktu penyelesaian program, dan jenis ijazah yang diterima.
Hafalan yang kuat membutuhkan pengulangan teratur. Pondok yang serius biasanya tidak hanya mendorong penambahan hafalan baru, tetapi juga menyediakan waktu khusus untuk mengulang bagian lama. Orang tua sebaiknya meminta penjelasan mengenai sistem setoran, ujian hafalan, pendampingan bacaan, dan evaluasi perkembangan santri.
Asrama Menjadi Ruang Pendidikan Sepanjang Hari
Asrama membedakan pesantren dari sekolah Islam yang hanya menjalankan kegiatan sampai siang atau sore. Di dalam asrama, santri belajar hidup bersama teman dengan asal daerah, kebiasaan, dan keadaan keluarga yang berbeda. Mereka harus mengikuti aturan kamar, menggunakan fasilitas bersama, menjaga kebersihan, serta menyelesaikan perselisihan tanpa selalu melibatkan orang tua.
Jadwal harian umumnya dimulai sebelum Subuh. Setelah ibadah dan pengajian, santri bersiap mengikuti kelas formal. Sore dapat digunakan untuk olahraga, bahasa, hafalan, atau kegiatan tambahan. Malam hari diisi dengan belajar bersama, pengajian, pemeriksaan kamar, dan persiapan kegiatan esok hari.
Kedisiplinan tidak boleh hanya diukur melalui banyaknya larangan. Orang tua perlu memahami cara pembina memberikan sanksi, mekanisme pengaduan santri, pengawasan terhadap perundungan, serta perlindungan dari kekerasan. Aturan yang tegas tetap harus dijalankan dengan penghormatan terhadap keselamatan dan hak anak.
Kunjungan langsung dapat memberikan gambaran mengenai keadaan sebenarnya. Perhatikan ventilasi kamar, kepadatan tempat tidur, kebersihan kamar mandi, sumber air, dapur, ruang makan, tempat ibadah, klinik, dan jalur keluar ketika terjadi keadaan darurat.
Biaya Pesantren Perlu Dihitung Secara Menyeluruh
Biaya masuk pesantren biasanya terdiri atas pendaftaran, pembangunan, seragam, buku, perlengkapan asrama, makan, pendidikan bulanan, kegiatan, dan layanan kesehatan. Susunan pembayaran berbeda pada setiap lembaga serta dapat berubah menurut jenjang dan program.
Orang tua perlu meminta lembar biaya tertulis agar dapat membedakan pembayaran sekali masuk dengan kewajiban bulanan. Tanyakan pula biaya yang mungkin muncul di tengah tahun, termasuk perjalanan kegiatan, ujian, klub, laundry, perawatan, atau pembelian perlengkapan tambahan.
Harga lebih tinggi tidak selalu menunjukkan pengasuhan yang lebih baik. Sebaliknya, biaya rendah juga perlu diperiksa agar keluarga mengetahui fasilitas yang tersedia. Perbandingan sebaiknya meliputi kualitas guru, keamanan, makanan, kebersihan, program pendidikan, serta keterbukaan pengelolaan.
Beberapa pondok menyediakan beasiswa, keringanan, atau pembayaran bertahap. Informasi tersebut perlu ditanyakan langsung kepada bagian penerimaan karena kuota, persyaratan, dan sumber pembiayaannya dapat berubah setiap tahun.
Legalitas dan Jenis Ijazah Wajib Diperiksa
Pesantren dapat menaungi satu atau beberapa bentuk pendidikan. Ada pondok yang mengelola SMP, MTs, SMA, MA, pendidikan diniyah, tahfiz, atau program kesetaraan. Nama pesantren tidak selalu sama dengan nama satuan pendidikan yang menerbitkan ijazah.
Orang tua perlu meminta nomor statistik pesantren, identitas sekolah, status akreditasi, serta keterangan mengenai ijazah. Data sekolah dapat diperiksa melalui layanan pemerintah, sedangkan informasi pesantren dapat dikonfirmasi kepada Kementerian Agama. Situs data pendidikan pemerintah, misalnya, mencatat identitas satuan pendidikan Ummul Mukminin beserta situs resminya.
Pemeriksaan diperlukan bagi santri yang akan melanjutkan pendidikan ke sekolah lain, perguruan tinggi, atau program beasiswa. Jangan hanya mengandalkan pernyataan lisan bahwa ijazah dapat digunakan. Mintalah penjelasan mengenai pihak yang menerbitkan, kurikulum yang digunakan, dan prosedur kelulusan.
Dokumen pendaftaran juga perlu dibaca secara teliti, terutama ketentuan pengembalian biaya, izin kesehatan, penyimpanan barang, penggunaan foto, jadwal kunjungan, serta pemberhentian santri.
“Pesantren yang sesuai bukan selalu lembaga yang paling terkenal, melainkan pondok yang program, pengasuhan, keamanan, dan kemampuannya dapat memenuhi kebutuhan anak serta keluarga.”
Kesiapan Anak Menentukan Proses Penyesuaian
Proses penerimaan dapat mencakup tes membaca Al Quran, pengetahuan agama, kemampuan akademik, wawancara, pemeriksaan kesehatan, serta percakapan dengan orang tua. Beberapa pesantren menilai kesiapan tinggal di asrama karena prestasi sekolah belum tentu menunjukkan kemampuan anak hidup jauh dari keluarga.
Calon santri sebaiknya dilibatkan sejak awal. Ajak anak melihat kamar, ruang kelas, masjid, tempat makan, dan lingkungan pondok. Beri kesempatan untuk bertanya mengenai jadwal, aturan gawai, waktu menghubungi keluarga, kegiatan olahraga, serta cara meminta pertolongan ketika sakit.
Persiapan sebelum masuk dapat dimulai dengan membiasakan anak bangun pagi, merapikan tempat tidur, menjaga pakaian, mengatur uang saku, dan menyelesaikan kebutuhan pribadi. Kebiasaan sederhana membantu anak menghadapi perubahan dari rumah menuju asrama.
Orang tua juga perlu menyampaikan informasi kesehatan secara jujur. Alergi, obat rutin, gangguan tidur, kebutuhan makanan, riwayat perawatan, atau kesulitan belajar harus diketahui pengelola agar pembina dapat memberikan bantuan yang sesuai.
Hari Hari Awal Santri Memerlukan Perhatian Keluarga
Periode awal tinggal di pesantren sering diisi rasa rindu rumah, kelelahan, kesulitan mengikuti jadwal, dan keinginan pulang. Reaksi tersebut tidak selalu menunjukkan anak gagal. Santri membutuhkan waktu untuk mengenal teman, memahami aturan, serta membangun hubungan dengan pembina.
Komunikasi keluarga perlu mengikuti ketentuan pondok. Menghubungi anak terlalu sering dapat membuat penyesuaian lebih berat, sedangkan memutus komunikasi sepenuhnya dapat membuat anak merasa ditinggalkan. Pola yang seimbang dapat dibicarakan dengan wali asrama.
Perubahan perilaku harus diperhatikan. Keluhan ringan mengenai makanan atau jadwal dapat muncul selama penyesuaian, tetapi ketakutan berlebihan, luka yang tidak jelas, kehilangan barang berulang, gangguan tidur berat, atau penolakan berbicara perlu ditelusuri.
Hubungan orang tua dengan wali kelas dan pengasuh sebaiknya dibangun sejak awal. Catatan perkembangan akademik, ibadah, kesehatan, kedisiplinan, dan pergaulan membantu keluarga melihat keadaan anak secara utuh. Komunikasi terbuka membuat pesantren dapat menjalankan pendidikan ilmu, ibadah, kemandirian, serta kehidupan bersama secara seimbang.






