Prof Hamdan Juhannis Kembali Nahkodai UIN Alauddin Makassar Aula kampus tampak lebih hidup dari biasanya. Spanduk bertuliskan selamat bertugas membentang di atas panggung, sementara barisan civitas akademika memenuhi kursi dengan wajah antusias. Di tengah riuh tepuk tangan, Prof Hamdan Juhannis kembali didaulat memimpin Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Momen serah terima yang berlangsung hangat itu seolah menegaskan satu hal yang sudah dipahami banyak orang di kampus hijau. Kontinuitas kepemimpinan adalah modal penting untuk meneruskan lompatan yang sudah dimulai, dari reformasi tata kelola, pembaruan kurikulum, sampai penguatan ekosistem riset dan pengabdian.
“Keberlanjutan bukan sekadar melanjutkan. Ia adalah janji untuk menuntaskan yang sudah dimulai sambil berani membuka bab baru.”
Sentimen Kampus Hijau yang Menguat
Kembali terpilihnya Prof Hamdan disambut oleh kombinasi rasa lega dan optimisme. Lega karena arah besar kampus tidak perlu memulai dari nol. Optimis karena pengalaman periode sebelumnya merupakan bekal untuk melaju lebih presisi. Di koridor fakultas, dosen muda bercerita tentang bagaimana sistem penilaian kinerja akademik makin terukur dan transparan. Mahasiswa membahas harapan pada akses beasiswa dan program pertukaran, sementara tenaga kependidikan menyebut efisiensi layanan administrasi yang belakangan terasa nyata.
Di kampus yang tumbuh di simpang tradisi keilmuan Islam dan dinamika ilmu modern, kepemimpinan yang memahami dua bahasa ini menjadi kunci. Prof Hamdan dikenal piawai menautkan tradisi keilmuan klasik dengan praktik praktik terbaik perguruan tinggi masa kini, tanpa membuat salah satunya merasa tersisih.
Menyatukan Dua Sungai: Keislaman dan Keilmuan
Sejak lama UIN Alauddin memikul amanah ganda. Di satu sisi menjaga identitasnya sebagai perguruan tinggi keagamaan. Di sisi lain harus relevan dengan perubahan lanskap ilmu dan industri. Di podium, Prof Hamdan kerap mengulang metafora dua sungai. Sungai pertama adalah keislaman sebagai sumber nilai dan etika. Sungai kedua adalah keilmuan sebagai metode dan alat baca dunia. Ketika keduanya bertemu di muara yang tepat, lahir lulusan yang kompeten sekaligus berkarakter.
Pendekatan ini memengaruhi desain kurikulum. Mata kuliah metodologi riset tidak diajarkan secara kering, tetapi ditautkan dengan problem sosial yang dekat. Mata kuliah etika profesi tidak berhenti pada pasal, tetapi diturunkan ke proyek lapangan, misalnya audit etika komunikasi publik atau asesmen dampak sosial program pemerintah daerah. Perpautan nilai dan metode melahirkan pembelajaran yang membumi.
Manajemen Perubahan yang Terencana
Salah satu tantangan dalam memimpin perguruan tinggi adalah mengelola perubahan tanpa memicu keletihan institusional. Pada periode sebelumnya, perubahan diarahkan lewat peta jalan yang berlapis. Ada sasaran cepat seperti standarisasi dokumen akademik, digitalisasi pelayanan, dan tata ruang sekretariat yang lebih fungsional. Ada sasaran menengah seperti perbaikan indikator kinerja penelitian, penguatan kelompok kajian lintas fakultas, serta implementasi kurikulum berbasis capaian pembelajaran. Lalu sasaran jangka panjang berupa modernisasi infrastruktur laboratorium dan internasionalisasi publikasi.
Dengan peta jalan seperti ini, perubahan tidak terasa ugal ugalan. Setiap kebijakan memiliki indikator, jangka waktu, dan mekanisme peninjauan. Kecermatan ini membuat sivitas tidak merasa digiring, melainkan diajak berjalan dalam ritme yang dapat diikuti.
“Perubahan yang baik tidak membuat orang kehabisan napas. Ia memastikan semua pihak punya oksigen untuk ikut berlari.”
Digitalisasi Layanan yang Manusiawi
Digitalisasi sering terbentur dua problem klasik. Sistem yang lambat dan antarmuka yang tidak ramah. Di kampus hijau, dorongan digitalisasi bukan sekadar memindahkan formulir ke format daring. Layanan akademik dan kepegawaian dirapikan dari hulu ke hilir. Validasi berkas yang dulu berlapis diluruskan, alur persetujuan disingkat, dan pelacakan status permohonan dibuat transparan. Mahasiswa dapat memeriksa progres bebas pustaka tanpa harus mondar mandir menuju loket, dosen dapat mengajukan penugasan belajar dengan jejak dokumen yang rapi.
Keuntungan tidak hanya soal kenyamanan. Data yang terstruktur memudahkan perencanaan. Unit pengelola dapat melihat tren pengajuan cuti akademik, lonjakan permintaan wisuda, hingga pola konsultasi administrasi yang ramai di minggu tertentu. Dengan data ini, sumber daya bisa diposisikan di tempat paling dibutuhkan.
Riset yang Membela Realitas
Di bawah nahkoda yang sama, riset tidak dikejar semata sebagai angka publikasi. Kebijakan mendorong agar penelitian memiliki dimensi kemanfaatan yang jelas, terutama pada isu yang dekat dengan warga. Kelompok kajian lintas disiplin dibentuk untuk membedah persoalan pangan, mitigasi bencana, literasi keagamaan di ruang digital, hingga kesehatan mental pelajar. Kolaborasi dengan pemda, sekolah, pesantren, dan komunitas menjadi kanal yang memungkinkan riset turun sebagai rekomendasi kebijakan dan program nyata.
Bursa riset tahunan digelar untuk mempertemukan peneliti kampus dengan mitra pengguna hasil riset. Presentasi dibuat populer, poster didorong komunikatif, dan ringkasan eksekutif disusun agar mudah dicerna pengambil kebijakan. Di sini, universitas menjalankan perannya sebagai simpul pengetahuan publik yang bekerja untuk kemaslahatan.
Kualitas Dosen dan Karier Akademik yang Terukur
Kualitas pendidikan tidak lebih baik dari kualitas pengajarnya. Peningkatan kapasitas dosen menjadi perhatian. Di periode lalu, skema tugas belajar dan postdoctoral diperluas dengan mekanisme mentoring saat kembali bertugas. Dosen yang pulang tidak dilepas sendiri. Mereka diberi ruang untuk membentuk laboratorium mini, memimpin mata kuliah inti, dan mengisi lokakarya metodologi untuk rekan sejawat. Dengan cara ini, investasi belajar tidak putus pada ijazah, tetapi memantul sebagai manfaat yang dirasakan banyak orang.
Karier akademik juga ditata lebih terprediksi. Poin kinerja tidak hanya menilai publikasi, melainkan juga pengabdian dan inovasi pengajaran. Dosen yang menciptakan materi ajar terbuka, menginisiasi microcredential, atau menghasilkan prototipe teknologi tepat guna dihargai setara. Keadilan pengakuan ini membuat talenta beragam merasa didengar.
“Perguruan tinggi yang sehat adalah yang menemukan panggung untuk ragam kecemerlangan, bukan hanya satu jenis bintang.”
Mahasiswa sebagai Mitra, Bukan Objek Kebijakan
Masukan mahasiswa bukan sekadar formalitas. Forum konsultasi kebijakan digelar rutin dengan melibatkan BEM universitas dan fakultas. Hasilnya terlihat pada perbaikan kalender akademik, sinkronisasi jadwal KKN dengan magang industri, dan penyediaan kanal resminya aduan layanan. Unit karier memperkuat jejaring dengan industri tanpa mengabaikan tradisi ilmiah, menghadirkan klinik CV, simulasi wawancara, dan bursa magang yang terkurasi agar nilai akademik tidak tergadai.
Di ranah kesejahteraan, skema bantuan UKT dipermudah verifikasinya, sementara layanan konseling diperluas jamnya. Kampus ingin memastikan mahasiswa tidak tersisih karena problem non akademik. Pada akhirnya, angka kelulusan tepat waktu dan tingkat serapan kerja lulusan menjadi indikator yang diawasi dari dekat.
Internasionalisasi yang Tetap Membumi
Internasionalisasi bukan perlombaan stempel mitra, melainkan kualitas pertukaran. Program pertukaran mahasiswa dan dosen diarahkan ke universitas yang memiliki kekuatan pelengkap. Mahasiswa UIN Alauddin yang berangkat ke luar negeri membawa kekhasan kajian Islam Nusantara, sementara mahasiswa inbound mendapat pengalaman mempelajari moderasi beragama di ruang sosial yang nyata. Publikasi bersama tidak dikejar asal cepat, tetapi dibangun dari penelitian yang benar benar berjumpa.
Di sisi lain, bahasa asing dikerjakan sebagai alat kerja, bukan sekadar syarat kelulusan. Pusat bahasa mengkaitkan kursus dengan proyek. Mahasiswa yang mengambil kelas Academic Writing misalnya diminta menyelesaikan draf artikel yang siap kirim ke jurnal pemula. Keterhubungan seperti ini membuat belajar terasa relevan.
Infrastruktur sebagai Enabler, Bukan Pameran
Infrastruktur sering kali jadi panggung mudah, tetapi kampus belajar bahwa bangunan harus menjawab kebutuhan akademik. Renovasi ruang kuliah diarahkan pada kenyamanan belajar, akustik yang baik, pencahayaan cukup, dan fleksibilitas tata kursi. Laboratorium diperbarui bertahap dengan prinsip keamanan dan integritas data. Perpustakaan tidak dibiarkan sunyi, ia dihidupkan sebagai ruang kolaborasi yang menyediakan akses e journal, pelatihan sitasi, hingga ruang diskusi kecil.
Di luar ruang, kampus memperbaiki konektivitas pejalan kaki. Jalur teduh, signage yang jelas, dan titik istirahat membuat mobilitas antarfakultas lebih ramah. Bagi penyandang disabilitas, akses diarahkan untuk benar benar inklusif, bukan sekadar ramp simbolik.
Ekosistem Pengabdian yang Terukur Dampaknya
Pengabdian masyarakat menjadi ruang tempat ilmu diuji. Pada periode lalu, program KKN tematik diperluas agar tidak berhenti pada kerja bakti. Mahasiswa didorong memetakan isu prioritas desa, dari stunting, literasi digital, hingga adaptasi perubahan iklim. Dosen pembimbing lapangan menyiapkan modul intervensi sederhana yang dapat diteruskan perangkat desa setelah KKN usai. Laporan pengabdian tidak lagi sekadar dokumentasi foto, tetapi memuat indikator hasil yang bisa ditinjau satu semester berikutnya.
Jejaring dengan organisasi keagamaan, lembaga filantropi, dan komunitas kreatif dibangun untuk memperpanjang umur program. Model ini membuat pengabdian tidak terputus saat mahasiswa kembali ke kampus. Ada warga dan mitra lokal yang melanjutkan.
“Ilmu yang bermakna adalah yang tinggal di desa setelah mahasiswa pulang.”
Tata Kelola yang Sederhana dan Transparan
Keterbukaan informasi di kampus diperbaiki dengan laman yang informatif dan laporan berkala. Anggaran unit kerja diringkas dalam format yang mudah dipahami sivitas. Mekanisme pengadaan memanfaatkan sistem elektronik yang memungkinkan audit jejak. Komite etik didorong bekerja proaktif, mulai dari etika riset hingga etika komunikasi publik. Ketika terjadi kekeliruan, klarifikasi resmi keluar cepat dan diperbaiki dengan tindakan, bukan sekadar narasi.
Pola ini membuat kepercayaan internal terjaga. Tenaga kependidikan merasa aman menyampaikan pendapat. Dosen tidak ragu mengajukan kritik. Mahasiswa tahu pintu mana yang harus diketuk jika ada masalah. Kultur aman berdemokrasi di dalam kampus adalah modal besar untuk kualitas akademik.
Agenda Lima Bidang yang Menjadi Fokus
Dalam pidato perdana, Prof Hamdan memadukan refleksi dengan arah kerja. Ia menyinggung lima bidang yang akan dipacu. Bidang akademik menitikberatkan pada pembelajaran berbasis proyek dan evaluasi autentik. Bidang riset mendorong kolaborasi interdisipliner dengan topik prioritas kawasan timur Indonesia. Bidang kemahasiswaan memantapkan jejaring magang dan kewirausahaan sosial. Bidang kerja sama memperluas mitra strategis lintas negara dan lintas sektor. Bidang tata kelola bersiap menyederhanakan lagi proses keuangan dan layanan.
Fokus yang terang ini memudahkan unit di bawahnya menyusun rencana kerja. Di universitas besar, kejelasan prioritas adalah kompas. Tanpanya, energi tercecer ke program yang mengkilap namun tidak membentuk lanskap.
Menjawab Tantangan Zaman yang Cepat Berubah
Perguruan tinggi hidup di tengah perubahan yang tidak selalu lembut. Disrupsi teknologi, transformasi pekerjaan, hingga polarisasi informasi menuntut kampus adaptif. Prof Hamdan menekankan literasi baru sebagai bagian dari kurikulum tersembunyi. Literasi data, literasi digital, dan literasi kebudayaan. Mahasiswa diajak terampil memverifikasi informasi, membaca data dengan kritis, dan menghormati keberagaman ekspresi keagamaan dalam bingkai kebangsaan.
Kampus tidak bermaksud memagari dunia maya. Ia ingin menyiapkan warganya menjadi navigator yang andal. Dalam kelas dan komunitas, mahasiswa diberi proyek yang menuntut mereka menyeimbangkan nilai dan inovasi, kecepatan dan kehati hatian, kreativitas dan tanggung jawab.
“Di antara dua ekstrem kecepatan dan kehati hatian, pemimpin memilih ritme yang membuat kita selamat sampai tujuan.”
Harapan yang Mengalir dari Banyak Arah
Harapan mengalir dari banyak arah. Orang tua menanti kabar bahwa kampus menjaga karakter anak mereka sambil menajamkan kecakapan kerja. Dunia usaha mencari lulusan yang bisa diajak bicara data dan diajak menjaga etika. Pemerintah daerah membutuhkan mitra riset yang tidak hanya pandai mengkritik, tetapi trampil menawarkan solusi. Civitas akademika mendamba keseharian kerja yang rapi, suportif, dan memberi ruang tumbuh.
Di tengah ekspektasi itu, kepemimpinan yang kembali dipercaya publik kampus memikul beban sekaligus kesempatan. Beban untuk menjaga amanah. Kesempatan untuk menjahit langkah langkah kecil menjadi jejak besar.
Kompas Moral dan Energi Kolektif
Pada akhirnya, kampus dibangun oleh energi kolektif. Rektor adalah konduktor yang memastikan orkestra tidak sumbang. Prof Hamdan yang kembali memegang tongkat memberi sinyal bahwa musik yang sudah terlanjur indah didengar akan diolah lebih matang. Ada partitur baru, ada improvisasi, ada bagian yang perlu dipelankan agar yang lain menonjol. Yang terpenting, tidak ada instrumen yang merasa tak berguna.
Di halaman kampus, pohon pohon tua melambai pelan. Mahasiswa melintas dengan ransel dan buku yang penuh catatan. Dosen menuju ruang diskusi kecil. Pegawai menutup laporan bulanan yang rapi. Kesibukan yang terlihat biasa itu adalah tanda mesin universitas bekerja. Dengan kompas moral yang jelas dan panduan kerja yang nyata, kapal bernama UIN Alauddin Makassar siap melanjutkan pelayaran. Dan di anjungan, nakhoda yang pernah menuntun melewati arus kencang kembali menunjuk arah.






